Zaman Romawi Kuno
Sejarah Jurnalistik di dunia Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola
hal-hal yang sifatnya informatif saja. Itu terbukti pada Acta Diurna
sebagai produk jurnalistik pertama pada zaman Romawi Kuno (100-44 SM),
ketika kaisar Julius Caesar berkuasa. Sekilas tentang pengertian dan
perkembangan jurnalistik, Assegaff sedikit menceritakan sedikit sejarah.
Bahwa jurnalistik berasal dari kata Acta Diurna, yang terbit di zaman
Romawi, dimana berita-berita dan pengumuman ditempelkanatau dipasang di
pusat kota yang di kala itu disebut Forum Romanum.
.


.
“Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau
papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama;
pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius
Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”. Sebenarnya, Caesar hanya
meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan
berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung,
segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang
digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan
pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.
Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan
kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”.
Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan
penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan
pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut
“Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Berita di
“Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para
“Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan
tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari,
untuk para tuan tanah dan para hartawan.
Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik
berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau
“setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan
bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau
“laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan
“Journalist” (wartawan).
Zaman Nabi Nuh
Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal
bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh.
Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal
beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam
hewan.
Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor
burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan
adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon
zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan
dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah
mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.
Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita
dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun
disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.
Sejarah Penemuan Kertas China

Cai Lun (Hanzi: 蔡倫, simplify 蔡伦 , pinyin: Cà i Lún, Wade-Giles: Ts’ai
Lun) ialah penemu kertas berkebangsaan Tionghoa yang hidup di zaman
Dinasti Han, abad ke-1 – abad ke-2 Masehi. Lahir di Guiyang (sekarang di
wilayah provinsi Hunan), ia bernama lengkap Cai Jingzhong (sering pula
dipanggil Jingzhong ((敬仲)), ia adalah seorang kasim Cina yang bekerja
sebagai pegawai negara pada pengadilan kekaisaran. Secara tradisional
dia dianggap sebagai penemu kertas (paper) dan proses pembuatan kertas,
dalam bentuk yang dikenal di zaman modern meski bentuknya belum
sesempurna sekarang ini. Meskipun bentuk awal kertas sudah ada di Cina
sejak abad ke-2 SM, namun ia telah berjasa dalam perbaikan signifikan
pertama dan standardisasi pembuatan kertas dengan menambahkan
bahan-bahan baru yang penting ke dalam komposisinya.
Pada zaman kuno tulisan dan prasasti umumnya dilakukan pada tablet
bambu atau potongan sutra yang disebut chih. Tapi karena harga sutra
yang mahal dan beratnya bambu, membuat kedua media tersebut tidak nyaman
untuk digunakan. Tshai Lun [Cai Lun] kemudian mendapatkan ide membuat
kertas dari kulit pohon, sisa-sisa rami, kain kain, dan jaring ikan.
Saat ini kertas telah digunakan di mana-mana dan dikenal dengan ‘kertas
dari Marquis Tshai’.
Cai Lun membuat kertas dari kulit kayu murbei. Bagian dalamnya
direndam di air dan dipukul-pukul sehingga seratnya lepas. Bersama
dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan.
Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur. Lalu
jadilah kertas yang mutunya masih belum sebagus sekarang.
Pada tahun 105 M ia mempersembahkan contoh kertas pada Kaisar Han
Hedi. Catatan tentang penemuan kertas ini terdapat dalam penulisan
sejarah resmi Dinasti Han. Konon kaisar amat girang atas penemuan Cai
Lun, dan Cai Lun pun naik pangkat, mendapat gelar kebangsawanan dan
menjadi cukong.
MASA PERKEMBANGANNYA
Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis makin meluas pada
masa peradaban Mesir, ketika masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan
kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.
Pada abad 8 M., tepatnya tahun 911 M, di Cina muncul surat kabar
cetak pertama dengan nama “King Pau” atau Tching-pao, artinya “Kabar
dari Istana”. Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu
secara teratur seminggu sekali.
Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak
ditemukan oleh Johan Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk
seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg,
Jerman. Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara
luas di suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus
ke Benua Amerika pada 1493.
Pelopor surat kabar sebagai media berita pertama yang bernama
“Gazetta” lahir di Venesia, Italia, tahun 1536 M. Saat itu Republik
Venesia sedang perang melawan Sultan Sulaiman. Pada awalnya surat kabar
ini ditulis tangan dan para pedagang penukar uang di Rialto menulisnya
dan menjualnya dengan murah, tapi kemudian surat kabar ini dicetak.
Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah
Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian
berganti nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi
editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah
“Newspaper”.
Di Amerika Serikat ilmu persuratkabaran mulai berkembang sejak tahun
1690 M dengan istilah “Journalism”. Saat itu terbit surat kabar dalam
bentuk yang modern, Publick Occurences Both Foreign and Domestick, di
Boston yang dimotori oleh Benjamin Harris.
Pada Abad ke-17, di Inggris kaum bangsawan umumnya memiliki
penulis-penulis yang membuat berita untuk kepentingan sang bangsawan.
Para penulis itu membutuhkan suplai berita. Organisasi pemasok berita
(sindikat wartawan atau penulis) bermunculan bersama maraknya jumlah
koran yang diterbitkan. Pada saat yang sama koran-koran eksperimental,
yang bukan berasal dari kaum bangsawan, mulai pula diterbitkan pada Abad
ke-17 itu, terutama di Prancis.
Pada abad ke-17 pula, John Milton memimpin perjuangan kebebasan
menyatakan pendapat di Inggris yang terkenal dengan Areopagitica, A
Defence of Unlicenced Printing. Sejak saat itu jurnalistik bukan saja
menyiarkan berita (to inform), tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan
masyarakat (to influence).
Di Universitas Bazel, Swiss jurnalistik untuk pertama kali dikaji
secara akademis oleh Karl Bucher (1847 – 1930) dan Max Weber (1864 –
1920) dengan nama Zeitungskunde tahun 1884 M. Sedangkan di Amerika mulai
dibuka School of Journalism di Columbia University pada tahun 1912
M/1913 M dengan penggagasnya bernama Joseph Pulitzer (1847 – 1911).
Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik
ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya,
sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula ketrampilan
desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik
percetakan.
Pada abad ini juga perkembangan jurnalisme mulai diwarnai perjuangan
panjang kebebasan pers antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan
Eropa berhasil menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir
Abad ke-18 dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal
sekarang.
Perceraian antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar
1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas:
independen dan berwibawa. Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu
bahkan lebih berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau
pemerintahan. Jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang mandiri dan
cabang bisnis baru.
Pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita
yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk
didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Kantor
berita pelopor yang masih beroperasi hingga kini antara lain Associated
Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).
Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow
Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran
headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh
Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.
Ciri khas “jurnalisme kuning” adalah pemberitaannya yang bombastis,
sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik.
Tujuannya hanya satu: meningkatkan penjualan! Namun, jurnalisme kuning
tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme
sebagai profesi.
Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang
partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden, tanpa
pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun, para wartawannya
kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik
haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial.
Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorong para wartawan
untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Organisasi profesi
wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh
wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus
jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas,
yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak
bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi
jurnalisme profesional.
Penemuan Mesin Cetak Johannes Gutenberg
Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg adalah seorang pandai
logam dan pencipta berkebangsaan Jerman yang memperoleh ketenaran berkat
sumbangannya di bidang teknologi percetakan. Gutenberg (1398- 3
Februari 1468) Tradisi menamainya sebagi pencipta movable type di Eropa,
suatu perbaikan sistem pencetakan blok yang sudah digunakan di wilayah
tersebut.
Karya utamanya, Alkitab Gutenberg (juga dikenal sebagai Alkitab 42
baris), telah diakui memiliki estetika dan kualitas teknikal yang
tinggi. Gutenberg juga diakui karena memperkenalkan tinta berbasis
minyak yang lebih tahan lama dibandingkan tinta berbasis air yang dulu
dipergunakan. Sebagai bahan percetakan dia menggunakan naskah yang
terbuat dari kulit binatang dan kertas, yang terakhir diperkenalkan di
Eropa dari Cina dengan menggunakan cara orang Arab beberapa abad yang
lalu.
Gutenberg lahir di kota Mainz, Jerman, sebagai putra bungsu dari
pedagang kelas atas Friele Gensfleisch zur Laden, dari istri keduanya,
Else Wyrich. Menurut beberapa laporan Friele adalah seorang tukang emas
untuk uskup di Mainz, namun kemungkinan besar ia juga melakukan
perdagangan kain sebagai sumber penghasilannya. Tahun kelahiran
Gutenberg tidak diketahui persis namun kemungkinan besar sekitar 1398.
Ia menerima latihan awal sebagai seorang tukang emas. Pada tahun
1411, terjadi pemberontakan di Mainz, sehingga dia harus pindah ke
Strasbourg dan tinggal di sana selama 20 tahun. Di Strasbourg, beliau
menyambung hidupnya dengan membuat barang yang terbuat logam. Gutenberg
menghasilkan hiasan kecil bercermin untuk dijual kepada peziarah agama
Kristen. Dia kemudiannya pulang ke Mainz dan bekerja sebagai seorang
tukang emas.

Gutenberg bukanlah penemu yang pertama, hal ini terbukti dengan
adanya bentuk pencetakan yang sangat sederhana yang dapat ditemukan di
Cina dan Korea sekitar tahun 175 AD. Tampilan yang terbalik di atas
kayu, dan kemudian perunggu telah dibuat pada tahun ini. Alat ini
kemudian dibubuhi tinta kemudian ditempatkan di atas secarik kertas dan
digosok dengan lembut menggunakan sebuah tongkat bambu.
Terobosan besar datang sekitar tahun 1440 oleh Johannes Gutenberg
dari kota Mainz, Jerman. Gutenberg menciptakan sebuah metode pengecoran
potongan-potongan huruf di atas campuran logam yang terbuat dari timah.
Potongan-potongan ini dapat ditekankan ke atas halaman berteks untuk
percetakan. Metode penemuan pencetakan oleh Gutenberg secara keseluruhan
bergantung kepada beberapa elemennya diatas penggabungan beberapa
teknologi dari Asia Timur seperti kertas, pencetakan dari balok kayu dan
mungkin pencetakan yang dapat dipindahkan, ciptaan Bi Shen, ditambah
dengan permintaan yang meningkat dari masyarakat Eropa untuk pengurangan
harga buku-buku yang terbuat dari kertas. Metode pengetikan ini
bertahan selama sekitar 500 tahun.
Karya Johannes Gutenberg dalam mesin cetak di mulai sekitar 1436
ketika dia sedang bekerja sama dengan Andreas Dritzehan, seseorang yang
pernah dibimbing oleh Gutenberg dalam pemotongan batu permata, dan
Andreas Heilmann, pemilik pabrik kertas. Tetapi rekor resmi itu baru
muncul pada tahun 1439 ketika ada gugatan hukum melawan Gutenberg;
saksi-saksi yang ada membicarakan mengenai cetakan Gutenberg, inventaris
logam (termasuk timah), dan cetakan ketikannya.
Ide Gutenberg yang terpenting tercetus ketika dia bekerja sebagai
tukang emas di Mainz. Dia mendapat ide untuk menghasilkan surat
pengampunan dengan membentuk kop huruf untuk mencetak surat pengampunan
dengan banyak agar dia mendapat banyak uang untuk membayar
hutang-hutangnya ketika dia bekerja sebagai tukang logam dahulu. Waktu
itu, buku dan surat ditulis dengan tulisan aksara latin dengan tangan
dan mengandung banyak kesalahan ketika penyalinan, juga kekurangannya
selain itu ialah lambat.
Oleh karena itu, Gutenberg pertama kalinya membuat acuan huruf logam
dengan menggunakan timah hitam untuk membentuk tulisan aksara latin .
Pada mulanya, Gutenberg terpaksa membuat hampir 300 bentuk huruf untuk
meniru bentuk tulisan tangan yang berbentuk tegak-bersambung. Setelah
itu, Gutenberg membuatkan untuk mereka mesin cetak yang bergerak untuk
mencetak. Mesin cetak bergerak inilah sumbangan terbesar Gutenberg.
Setelah menyempurnakan mesin cetak bergeraknya, Gutenberg mencetak
beribu-ribu surat pengampunan yang disalah gunakan oleh Gereja Katolik
untuk mendapatkan uang. Penyalah-gunaan ini merupakan puncak timbulnya
bantahan daripada sebagian pihak seperti Martin Luther.
Pulitzer Award

Penghargaan Pulitzer (
Pulitzer Prize) adalah penghargaan
yang dianggap tertinggi dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika
Serikat. Penghargaan ini juga diberikan untuk pencapaian dalam bidang
sastra dan gubahan musik. Penghargaan Pulitzer pertama diberikan pada 4
Juni 1917, dan sejak beberapa waktu lalu, mulai diumumkan setiap
tahunnya pada bulan April.
Penerima penghargaan ini dipilih oleh sebuah badan independen yang secara resmi diatur oleh
Columbia University Graduate School of Journalism
(Sekolah Jurnalisme Universitas Columbia) di Amerika Serikat.
Penghargaan ini diciptakan oleh Joseph Pulitzer, seorang jurnalis dan
penerbit surat kabar Hungaria-Amerika pada akhir abad ke-19.
Penghargaan diberikan dalam kategori-kategori yang berhubungan dengan
jurnalisme, kesenian dan surat-surat. Hanya laporan yang diterbitkan
dan foto-foto hasil karya surat kabar atau organisasi berita harian yang
berbasis di Amerika Serikat saja yang berhak menerima penghargaan
jurnalisme.
Jurnalistik Di Indonesia
- Zaman pendudukan Belanda
A.
Kolonial

Pers kolonial adalah pers yang di usahakan oleh orang-orang Belanda
pada masa penjajahan Belanda. Pers ini berupa surat kabar, majalah,
koran berbahasa Belanda atau bahasa daerah Indonesia yang bertujuan
membela kepentingan kaum kolonialis Belanda. Beberapa pejuang
kemerdekaan Indonesia pun menggunakan kewartawanan sebagai alat
perjuangan.
Pada tahun 1744 terbit tabloid Belanda pertama di Indonesia yaitu Batavis Novelis atau dengan namapanjangnya
Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes. Sebenarnya pada tahun 1615 Gubernur Jenderal pertama VOC Jan Piterszoon Coen telah memerintahkan menerbitkan
Memorie der Nouvelles
. surat kabar ini berupa tulisan tangan. Tanggal 5 Januari 1810
Gubernur Jenderal Daendels menerbitkan sebuah surat kabar mingguan
Bataviasche Koloniale Courant
yang memuat tentang peraturan-peraturan tentang penempatan jumlah
tenaga untuk tata buku, juru cetak, kepala pesuruh dan lain-lain.
Setelah itu mulai bermunculan surat kabar baru dari masyarakat Indonesia
itu sendiri. Seperti; Medan Priyayi (1910), Bintang Barat, Bintang
Timur, dan masih banyak lagi. Medan Priyayi adalah surat kabar pertama
yang dimiliki oleh masyarakat pribumi Indonesia, yang didirikan oleh
Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo. Oleh sebab itu Raden Jokomono
atau Tirto Hadi Soewirjo disebut sebagai tokoh Pemrakarsa Pers Nasional,
karena dia adalah orang pertama dari Indonesia yang mampu
memprakarsainya dan dimodali oleh modal Nasional.
Pada tahun 1811 saat Hindia Belanda menjadi jajahan Inggris
Bataviasche Koloniale Courant tidak terbit lagi. Orang Inggris menerbitkan
Java Government Gazette. Surat
kabar ini sudah memuat humor dan terbit antara 29 Februari 1812 sampai
13 Agustus 1814. Hal ini dikarenakan pulau Jawa dan Sumatera harus
dikembalikan kepada Belanda.
Belanda kemudian menerbitkan
De Bataviasche Courant dan kemudian tahun 1828 diganti dengan
Javasche Courant memuat berita-berita resmi , juga berita pelelangan, kutipan dari surat kabar di Eropa. Tahun 1835 di Surabaya terbit
Soerabajaasch Advertentieblad. Kemudian di Semarang pada pertengahan abad 19 terbit
Semarangsche Advertentieblad dan
De Semarangsche Courant dan kemudian
Het Semarangsche Niuews en Advertentieblad. Surat
kabar ini merupakan harian pertama yang mempunyai lampiran bahasa lain
seperti Jawa, Cina dan juga Arab. Tahun 1862 untuk pertama kali dibuka
jalan kereta api oleh Pemerintah Hindia Belanda maka untuk menghormati
hal tersebut
Het Semarangsche Niuews en Advertentieblad berganti nama menjadi
de Locomotief.
Setelah itu mulai bermunculan surat kabar baru dari masyarakat
Indonesia itu sendiri. Seperti; Medan Priyayi (1910), Bintang Barat,
Bintang Timur, dan masih banyak lagi. Medan Priyayi adalah surat kabar
pertama yang dimiliki oleh masyarakat pribumi Indonesia, yang didirikan
oleh Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo. Oleh sebab itu Raden
Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo disebut sebagai tokoh Pemrakarsa Pers
Nasional, karena dia adalah orang pertama dari Indonesia yang mampu
memprakarsainya dan dimodali oleh modal Nasional.
- Zaman Penjajahan Jepang
- Zaman Penjajahan Jepang
Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit:
Asia Raja,
Tjahaja,
Sinar Baru,
Sinar Matahari, dan
Suara Asia.
Beberapa keuntungan yang di dapat oleh para wartawan di Indonesia
yang bekerja pada penerbitan Jepang,antara lain sebagai berikut :
- Pengalaman yang di peroleh para karyawan pers Indonesia
bertambah.Fasilitas dan alat-alat yang di gunakan jauh lebih banyak dari
pada masa pers zaman Belanda. Penggunaan bahasa Indonesia dalam
pemberitaan makin sering dan luas.
- Pengajaran untuk rakyat agar berfikir kritis terhadap berita yang di
sajikan oleh sumber-sumber resmi Jepang. Selain itu,kekejaman dan
penderitaan yang di alami pada masa pendudukan Jepang memudahkan para
pemimpin bangsa memberikan semangat untuk melawan penjajahan.
Revolusi Fisik (Pendudukan Belanda)
Pada masa revolusi fisik ini, pers terbagi menjadi dua golongan,yaitu sebagai berikut :
- Pers yang di terbitkan dan di usahakan oleh tentara pendudukan
Sekutu dan Belanda yang selanjutnya di namakan pers Nica ( Belanda ).
- Pers yang di terbitkan dan di usahakan oleh orang Indonesia yang di sebut pers republik.
Pers republik disuarakan oleh masyarakat Indonesia yang berisi
semangat mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan
Sekutu. Pers ini benar-benar menjadi alat perjuangan masa itu.
Sebaliknya, pers Nica berusaha memengaruhi rakyat Indonesia agar
menerima kembali Belanda untuk berkuasa di Indonesia.
- Orde lama
Pers pada masa Orde lama digunakan untuk mengkritisi pemimpin. Dewan
Pers pertama kali terbentuk pada tahun 1966 melalui Undang-undang No.11
Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers. Fungsi dari Dewan
Pers saat itu adalah sebagai pendamping Pemerintah serta bersama-sama
membina perkembangan juga pertumbuhan pers di tingkat nasional. Saat
itu, Menteri Penerangan secara ex-officio menjabat sebagai Ketua Dewan
Pers.
2.
Orde baru
Pada era orde baru, kedudukan dan fungsi Dewan Pers tidak berubah
yaitu masih menjadi penasihat pemerintah, terutama untuk Departemen
Penerangan. Hal ini didasari pada Undang-Undang No. 21 Tahun 1982
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers. Tetapi terjadi perubahan perihal
keterwakilan dalam unsur keanggotaan Dewan Pers seperti yang dinyatakan
pada Pasal 6 ayat (2) UU No. 21 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pers Sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 4 Tahun
1967 :
“Anggota Dewan Pers terdiri dari wakil organisasi pers, wakil
Pemerintah dan wakil masyarakat dalam hal ini ahli-ahli di bidang pers
serta ahli-ahli di bidang lain.”
Pada masa ini, khususnya ketika Ali Murtopo menjadi Menteri
Penerangan (1977-1982), Departemen Penerangan difungsikan sebagai sebuah
“departemen politik” bersama Departemen Dalam Negeri. Artinya, ia
mempunyai fungsi pembinaan politik. Departemen ini berada di garda
terdepan dalam setiap kampanye pemilu. Fungsi ini semakin kental terasa
tatkala Harmoko menjadi Menteri Penerangan (1982-1997), dan selama tiga
periode berturut-turut Harmoko merangkap menjadi Ketua Umum Golkar
(1987-1998) dan Ketua Umum MPR (Maret 1998 -November 1998). Ini adalah
jabatan dan kedudukan yang sangat strategis. Dalam struktur kekuasaan
seperti itu, Departemen Penerangan menjadi lembaga penjaga gerbang
informasi yang sangat efektif bagi kepentingan pemerintah. Departemen
Penerangan (melalui Direktorat Bina Wartawan Dirjen PPG) mempunyai
kewenangan untuk mencegah tangkal visa bagi wartawan maupun koresponden
luar negeri serta mempunyai kewenangan untuk mencegah tangkal tayangan
siaran langsung televisi dari dan ke luar negeri. Karena itu, Departemen
Penerangan juga mempunyai wewenang dalam pengaturan agenda informasi
dari dan ke luar negeri. (Hidayat, dkk, 2000:225)
- Reformasi
Disahkannya Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers membuat
berubahnya Dewan Pers menjadi Dewan Pers yang Independen, dapat dilihat
dari Pasal 15 ayat (1) UU Pers menyatakan :
Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang independen
Fungsi Dewan Pers juga berubah, yang dahulu sebagai penasihat Pemerintah sekarang telah menjadi pelindung kemerdekaan pers.
Tidak ada lagi hubungan secara struktural dengan Pemerintah.
Dihapuskannya Departemen Penerangan pada masa Presiden Abdurrahman Wahid
menjadi bukti. Dalam keanggotaan, tidak ada lagi wakil dari Pemerintah
dalam Dewan Pers. Tidak ada pula campur tangan Pemerintah dalam
institusi dan keanggotaan, meskipun harus keanggotaan harus ditetapkan
melalui Keputusan Presiden. Untuk Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pers,
dipilih melalui mekanisme rapat pleno (diputuskan oleh anggota) dan
tidak dicantumkan dalam Keputusan Presiden. Pemilihan anggota Dewan Pers
independen awalnya diatur oleh Dewan Pers lama. Atang Ruswati menjabat
sebagai Ketua Badan Pekerja Dewan Pers, sebuah badan bentukan Dewan Pers
sebelum dilakukannya pemilihan anggota. Badan Pekerja Dewan Pers
kemudian melakukan pertemuan dengan berbagai macam organisasi pers juga
perusahaan media. Pertemuan tersebut mencapai sebuah kesepakatan bahwa
setiap organisasi wartawan akan memilih dan juga mencalonkan dua orang
dari unsur wartawan serta dua dari masyarakat. Setiap perusahaan media
juga berhak untuk memilih serta mencalonkan dua orang yang berasal dari
unsur pimpinan perusahaan media juga dua dari unsur masyarakat. Ketua
Dewan Pers independen yang pertama kali adalah Atmakusumah Astraatmadja.